Kelemahan dan Kelebihan Pengembangan Kurikulum Model Grass Roots

admin

Kurikulum Model Grass Roots
Kurikulum Model Grass Roots

Komnasanak Model kurikulum Grass Roots mengacu pada pendekatan di mana desain, pengembangan, dan implementasi kurikulum pendidikan didorong oleh kebutuhan, pengalaman, dan perspektif guru, siswa, dan pemangku kepentingan lainnya yang terlibat langsung dengan penggunaan kurikulum. 

Kurikulum. Ini adalah pendekatan dari bawah ke atas. Model ini dicirikan oleh pendekatan desentralisasi, yang mana kewenangan pengambilan keputusan didistribusikan ke berbagai pemangku kepentingan.

Tujuan dari model Grass Roots adalah untuk menciptakan kurikulum yang relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan dipaksakan dari atas.

Model Hilda Taba didasarkan pada pendekatan Grass Roots. Model tersebut menekankan pendekatan kolaboratif dan demokratis dalam pengembangan kurikulum yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk guru, siswa, administrator, dan anggota masyarakat.

Apa itu Pendekatan Grass Roots

Pendekatan grass roots, yang juga dikenal sebagai pendekatan bottom-up, adalah suatu metode pengembangan kurikulum yang dimulai dari keinginan yang muncul dari tingkat bawah, yaitu sekolah sebagai satuan pendidikan atau para guru.

Fitur Utama Grass Roots

Fitur utama model Grass Roots ini meliputi:

  • Keterlibatan masyarakat: Model ini melibatkan partisipasi aktif anggota masyarakat dalam menentukan kebutuhan dan tujuan pendidikan di daerah setempat.
  • Desentralisasi: Model akar rumput menekankan pengambilan keputusan yang terdesentralisasi, dengan lebih banyak kekuasaan yang diberikan kepada sekolah dan masyarakat lokal untuk menentukan kebutuhan kurikuler mereka sendiri dan kekuasaan tersebut tidak berada di satu tangan.
  • Relevansi dengan kebutuhan : Kurikulum dikembangkan dengan fokus untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan spesifik masyarakat lokal, menjadikannya lebih relevan dan berguna bagi siswa.
  • Sensitivitas budaya: Model akar rumput mempertimbangkan latar belakang budaya dan bahasa masyarakat lokal, memastikan bahwa kurikulum bersifat inklusif dan peka budaya.
  • Fleksibilitas: Model ini memungkinkan adanya fleksibilitas dalam penerapan kurikulum, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan sumber daya unik setiap komunitas.

Kelemahan dan Kelebihan Pengembangan Kurikulum Model Grass Roots

Namun, tetap pada setiap metode atau model kurikulum memiliki keunggulan dan kekurangan. Berikut ini kelemahan dan kelebihan pengembangan kurikulum kodel Grass Roots.

Kelemahan Pengembangan Kurikulum Model Grass Roots

Pengembangan kurikulum model grass roots memiliki lima kelemahan antara lain:

  • Ketidakteraturan dalam situasi yang membutuhkan keseragaman untuk mencapai persatuan dan kesatuan nasional.
  • Ketidakadanya standar penilaian yang seragam membuat sulit untuk membandingkan kondisi dan perkembangan sebuah sekolah/wilayah dengan sekolah/wilayah lainnya.
  • Ketika terjadi perpindahan siswa ke sekolah atau wilayah lain, seringkali muncul kesulitan yang harus dihadapi.
  • Mengadakan pengelolaan dan penilaian secara nasional merupakan tugas yang sulit.
  • Belum semua lembaga pendidikan/ wilayah memiliki kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum mereka sendiri.

Kelebihan Pengembangan Kurikulum Model Grass Roots

Pengembangan kurikulum model grass roots memiliki lima kelebihan antara lain:

  • Kurikulum yang berbasis grass roots dirancang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat.
  • Kurikulum ini juga disesuaikan dengan tingkat dan kemampuan sekolah, termasuk kemampuan professional, finansial, dan manajerial.
  • Selain itu, kurikulum ini disusun oleh guru-guru sendiri, sehingga pelaksanaannya menjadi lebih mudah.
  • Terdapat motivasi dari kepala sekolah untuk terus mengembangkan diri, mencari, dan menciptakan kurikulum yang terbaik. Hal ini menciptakan semacam kompetisi dalam pengembangan kurikulum.

Model-model pengembangan kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam proses pengembangan kurikulum.

Sangatlah penting bagi para pelaku pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, pengawas, dan anggota komite sekolah, untuk memahami dengan baik tentang keberadaan, manfaat, dan urgensi dari setiap model pengembangan kurikulum.

Also Read

Bagikan:

Tags