Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia

admin

Perkembangan Kurikulum Indonesia
Perkembangan Kurikulum Indonesia

Komnasnak – Kita pastinya sudah tidak asing lagi dengan apa yang disebut kurikulum atau sebuah program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yang berisi tentang rancangan pembelajaran

Membahas tentang kemajuan sebuah bangsa, rasanya hampir semua elemen sepakat bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting untuk mencapainya.

Bahkan kalau kita ingat kisah pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki 69 tahun yang lalu, ketika 2 kota itu luluh lantah, hal pertama yang dicari dan ditanyakan pemimpin adalah berapa banyak guru yang masih selamat. Jepang sudah sadar, ketika 2 kota mereka hancur maka untuk membangunnya kembali mereka butuh sosok guru untuk melakukannya.

Ini menunjukkan bahwa untuk membangun peradaban suatu bangsa diperlukan sistem pendidikan yang baik.

Dan yang selama ini nampak, ketika pemerintah menggulirkan suatu kurikulum yang akan menjadi acuan dalam dunia pendidikan di Indonesia, hampir selalu putus di tengah jalan. Kurikulum tersebut belum dilaksanakan dengan maksimal tapi langsung di ganti dengan kurikulum yang baru. 

Kegalauan dalam dunia pendidikan terus saja terjadi. Seolah-olah perkembangan pendidikan di negeri ini selalu berada pada masa “remaja” yang penuh dengan kebimbangan. Kedewasaan dalam dunia pendidikan di Indonesia memang belum terlihat.

Hal ini terbukti dari sistem kurikulum pendidikan yang selalu berubah-ubah. Tidak tanggung-tanggung perubahan ini terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat.

Ini mengesankan bahwa memang sistem pendidikan di Indonesia itu belum begitu matang, atau mungkin saja perubahan- perubahan kurikulum ini terjadi karena oknum- oknum tertentu yang berada pada jajaran petinggi pembuat kebijakan dalam dunia pendidikan.

Hal ini sangat jelas terlihat. Bahkan banyak yang beranggapan setiap kali sistem pemerintahan ini berganti menteri dalam hal ini menteri pendidikan, maka akan ada pengguliran kurikulum baru oleh menteri tersebut. Aneh memang, namun itu lah yang terjadi 

Padahal yang menjadi permasalahan dalam pendidikan itu bukan hanya kurikulum nya, banyak faktor lain yang mempengaruhi “mandek” nya pendidikan di Indonesia.

Faktor – faktor seperti kualitas guru, pemerataan sarana dan prasarana lebih pantas untuk diselesaikan dibandingkan dengan penggantian kurikulum.

Penggantian kurikulum ini sendiri merupakan suatu pemborosan besar-besaran.

Bagaimana tidak, ketika terjadi perubahan sebuah kurikulum pendidikan di Indonesia maka ini berarti pemerintah harus menganggarkan dana untuk mensosialisasikan kurikulum baru ini, melakukan pelatihan kepada semua penggerak pendidikan di seluruh pelosok negeri ini.

Bayangkan berapa banyak dana yang harus di kucurkan oleh pemerintah untuk hal ini.

Seperti yang dikutip brilio.net dari kemendikbud.go.id ternyata selama ini Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak 11 kali, terhitung sejak Indonesia merdeka. Yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015.

Berikut ini sejarah perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia sejak masa awal kemerdekaan:

Kurikulum 1947 atau disebut Rentjana Pelajaran 1947

Kurikulum pertama lahir pada masa kemerdekaan ini memakai istilah bahasa Belanda Leerplan artinya rencana pelajaran.

Istilah ini lebih populer dibanding istilah curriculum (bahasa Inggris). Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional.

Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum ini sebutan Rentjana Pelajaran 1947, dan baru dilaksanakan pada 1950.

Karena masih dalam suasana perjuangan, pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.

Fokus Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952

Kurikulum ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya, merinci setiap mata pelajaran sehingga dinamakan Rentjana Pelajaran Terurai 1952.

Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Paling menonjol sekaligus ciri dari Kurikulum 1952 ini, yaitu setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata pelajaran.

Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964

Pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pada 1964, namanya Rentjana Pendidikan 1964.

Ciri-ciri kurikulum ini, pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD.

Sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani.

Kurikulum 1968

Lahir pada masa Orde Baru, kurikulum ini bersifat politis dan menggantikan Rentjana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama.

Kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni.

Cirinya, muatan materi pelajaran bersifat teoretis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.

Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik sehat dan kuat.

Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pendidikan lebih efektif dan efisien.

Menurut Mudjito, Direktur Pembinaan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional kala itu, kurikulum ini lahir karena pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective).

Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.

Kurikulum 1984

Kurikulum ini mengusung pendekatan proses keahlian. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting.

Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.

Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya memadukan kurikulum kurikulum sebelumnya, terutama Kurikulum 1975 dan 1984.

Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal.

Misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.

Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Sebagai pengganti Kurikulum 1994 adalah Kurikulum 2004 disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi, dan pengembangan pembelajaran.

KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut, menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.

Kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan metode bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Kurikulum ini pada dasarnya sama dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan.

Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya.

Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Kurikulum 2013

Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku.

Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan.

Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.

Kurikulum 2015

Kurikulum tahun 2015 ini ternyata masih dalam tahap penyempurnaan dari kurikulum 2013. Namun Ujian Nasional yang digelar pada tahun 2015 ternyata menggunakan Kurikulum 2006 yaitu KTSP.

Karena, untuk saat ini, siswa yang sekolahnya sudah menggunakan Kurikulum 2013 baru melaksanakan tiga semester.

Lalu kemudian timbul pertanyaan, akan kah setelah bergantinya menteri pendidikan nanti berganti pulakah kurikulum pendidikan di Indonesia ini?.  Ini semua masih menjadi tanda tanya besar.

Also Read

Bagikan:

Tags